Rabu, 17 Oktober 2018

2. HIKMAH JOMBLO FII SABILILLAH

        Ucapannya tidak main-main. Dia benar-benar memang makhluk menyebalkan. Tidak kah dia mempunyai rasa kasihan sedikit saja terhadap ku sebagai seorang kakak? "Bang, Abang yakin nurunin Hawa disini? Hari ini Hawa ada ujian di kampus loh Bang?" tanyaku, memohon pengertian darinya.

          "100% Abang yakin. Lagian kamu juga suka hujan kan?" Jawabnya sambil melirik arloji di tangannya.

          Iya aku tahu, meskipun aku menyukai hujan, tapi bukan berarti aku harus hujan-hujanan juga kan? Yang ada bukannya di bolehin masuk untuk mengikuti ujian, aku malah di suruh keluar untuk mengeringkan pakaian.

          "Kamu pernah dengerkan kalau pepatah pernah mengatakan 'Waktu adalah uang' makanya udah buruan kamu turun! Jangan sampe waktu Abang kebuang sia-sia karena terjebak macet gara-gara nganterin kamu!" ucap Bang Ramdan di sertai suara klakson dari belakang.

          Tiiinnn... Tiinnn...

          Aku menoleh. Disana terlihat para kendaraan di belakang mobil kami sudah membentuk antrian panjang.

        "The time is over Hawa! Get out please!" ucapnya disertai senyum kemenangan.

         Aku menarik tuas pintu mobil dengan memberengut kesal. Aku sangat bersyukur karena Allah beserta orang-orang yang sabar, karena untuk menghadapi pria itu membutuhkan kesabaran extra.

         Aku menatap belakang mobil Bang Ramdan yang mulai melaju. Tunggu. Seperti ada sesuatu yang ku lupakan, tapi apa?

        Payung?!.

        Aku menepuk jidat, Astaga! Disaat seperti ini benda itu malah tertinggal di car seat bag.

         "Abaaangg! Payung Hawa ketinggalannn!" teriak ku, berharap pria itu mendengarnya, tapi percuma walaupun dia mendengarnya juga dia tidak akan kembali hanya demi aku.

~~🍃~~

          30 menit sudah aku terjebak di halte ini.

         Sudah lima kali aku memesan ojek online. Namun lima kali jugalah aku menerima cancelan dengan berbagai alasan. Ada yang tidak membawa jas hujanlah, bannya bocorlah, terkena macet dijalanlah, terjebak banjirlah, dan yang terakhir akulah yang memutuskan mengcancelnya karena alasan terlalu lama.

         Aishh.

         Sekarang aku harus apa? berharap gitu dikasih tumpangan saat hujan sama pangeran bermobil putih? Drama. Dan berharap ketemu Dosen pagi-pagi di Halte terus jodoh gitu?

         Tidak. Itu malah musibah!.

         Dan sekarang musibah itu benar-benar datang. mobil sedan putih itu berhenti tepat di depan ku, kemudian makhluk yang ada di dalamnya menyembulkan kepala setelah menurunkan jendela kaca mobilnya.

         "Naik!" perintahnya tegas mencoba memutus suara hujan yang begitu deras. Kemudian dia memberi ku pilihan karena tak kunjung merespon perintahnya.

         "Atau kamu lebih memilih detensi dari saya?" dia menjeda perkataanya sejenak, "Saya hitung dari satu sampai tiga, kalau kamu masih tetap diam berarti kamu memilih option kedua. Inget Hawa, saya tidak pernah memberi toleransi pada mahasiswa manapun dengan alasan apapun yang telat di jam mata kuliah saya."

         Jika Bang Ramdan adalah makhluk menyebalkan, maka pria di hadapanku itu adalah Mimpi buruk ku.

        "Satu..." dia mengangkat jarinya di udara membentuk angka satu menandakan mulai menghitung, "Dua..." dia menatap ku. "Ti-tiga!"

        "Ok, selama ujian saya berlangsung kamu harus menunggu saya di perpustakaan sampai ujian saya berakhir, dan itu artinya kamu harus siap-siap menerima detensi dari saya. Menyenangkan bukan hari ini, Selamat menikmati hujan Hawa." Dia menaikkan kaca mobilnya melaju menembus hujan.

        Lihat. Bantuan dan Jodoh itu sama-sama misterius. Dia datang begitu saja dan lewat begitu saja. Tapi satu hal yang sudah pasti, aku dan dia tidak akan pernah berjodoh. lagian aku juga cukup tau, bahwa seorang laki-laki dengan seorang wanita yang belum halal baginya tidak boleh berduan tanpa ditemani mahromnya. Karena sesungguhnya syaitan akan menjadi orang ketiga ditengah-tengah mereka.

◆◆🌸◆◆

ⓙⓞⓜⓑⓛⓞ
Siapa takut, apa lagi di jalan Allah, Ya gak 😎?

Jazaakumullah khairan katsiran wa jaazakumullah ahsanal jaza.


1. HIKMAH JOMBLO FII SABILILLAH

📌Keluarga Abdullah


          Alarm yang kupasang masih menyediakan waktu tiga puluh menit lagi menuju pukul lima. Seperti hari-hari biasanya, aku terbangun tepat ketika Papah melayangkan ketukan pertamanya di pintu kamar. Menyuruhku tuk bersiap-siap sholat subuh.

          "Iya Papah. Hawa udah bangun." Aku terduduk sebentar sambil mengucek-ngucek kedua mata. terdengar langkah Papah yang mulai menjauh dari pintu kamar setelah dia menyuruhku untuk pergi ke kamar seseorang yang berada tepat disamping kamarku.

           Aku bangkit menyingkap gorden, membuka jendela. Hari ini hujan masih turun seperti kemarin malam, tidak deras, hanya mampu membuat seseorang terlelap dengan begitu pulas.

           Khaahh.. khaahh..

          Aku berdiri tepat di samping kasur milik seseorang, dia tertidur pulas dengan selimut yang hampir sempurna menutupi raga. Ingin rasanya kulempar bantal itu tepat di wajahnya. membiarkannya terbangun dengan gelageban. Sayangnya akalku masih sehat, dia itu abang satu-satunya yang kumiliki, yang selalu setia menemani dan mengantarkanku kemana saja.


           Ramdan Putra Abdullah, namanya. Dia Makhluk pemalas dan menyebalkan yang sekarang lagi hidup di bumi.

           "Bang! Bangun. Di ajakin Papah tuh ke masjid!" Dia mengulet sebentar sambil mengucek-ngucek mata, melirik kearah jam yang berada di atas dinding.

           "Suruh duluan aja Dek, nanti Abang nyusul!" katanya kembali memejamkan mata.

            "PAH, BANG RAMDAN GAK MAU BANGUN TUH! KATANYA MAU DI SHOL--

           Mmmpp.. Mmmpp..

           Bug.

            Srreet.

           "Arrghh! Parah kamu Dek, Sakit tahu!" dia mengaduh kesakitan setelah aku menginjak kakinya dengan keras dan menyikut perutnya sambil memelintir tangannya ke belakang punggung. Siapa suruh dia membekapku secara tiba-tiba.

           "Reflek, Bang! Makanya jadi manusia itu jangan kebo, Abang juga sih dibangunin baik-baik malah kaya gitu. Inget, kita itu diciptain sama Allah bukan untuk menuhin bumi. Dunia adalah fase yang singkat, namun sangat menentukan bahagia-tidaknya seseorang pada fase berikutnya. Maka dari itu perbanyaklah amal, emangnya Abang mau masuk neraka karena melalaikan sholat? Inget bang, Sesungguhnya shalat memiliki waktu yang telah ditetapkan bagi setiap orang beriman, Dari Ummu Farwah, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhol. Beliau pun menjawab, "Shalat di awal waktunya." (HR. Abu Daud no. 426. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)"

          Bang Ramdan tersenyum merangkul bahu ku. "Wah, dah cocok kamu Dek jadi pendakwah. Tapi sayang, bulan puasa dah kelewat, jadi tahun besok aja yah Abang daftarin kamu ikut AKSI Indosiar? Gimana, Siapa tahu seusai dari acara itu kamu dapet jodoh, kan Abang jadi gak usah pusing-pusing nemenin kamu yang jomblo terus."

         "Abaaangg!"

~~🍃~~

           Selepas salat Subuh sekitar pukul enam, Mamah sudah sibuk memanggilku, "Hawa Princes Mamah, buruan turun sayang, sudah siang." Sambil menghidangkan omeletnya di atas piring, Mamah menoleh lagi ke atas, ke arah anak tangga, memanggil lagi, "Ramdan, sudah jam enam lewat. Bukannya hari ini ada rapat penting di kantor?"

           Aku turun ke lantai bawah. Di sana, aku melihat Mamah masih sibuk menyiapkan sarapan untuk kami, entah sejak kapan. Sedangkan Papah, dia membantu Mamah membereskan perlengkapan masak yang tadi di pakai, kriteria suami yang pengertian.

          Aku melihat sudah ada banyak makanan tersaji di atas meja. Ada omelet dan nasi goreng special buatan Mamah lengkap dengan empat gelas susu--punyaku yang rasa coklat.

          "Wah, enak nih Mah." Mataku menemukan satu objek yang menarik. Ini yang membuat cacing-cacing diperutku bertambah semangat, yaitu 'Tuna Sandwich' dua lembar roti tawar yang telah di panggang dipadu dengan irisan daun selada, timun, tomat yang di tengahnya diberi double telur mata sapi yang mengapit potongan tuna dan selembar keju yang sudah di olesi sauce mayo. Euummm, Yummy.

           "Princes Mamah Kenapa masih berdiri, sudah ayo makan, nanti kamu terlambat kuliahnya." Balas Mamah.

           Bang Ramdan turun dari lantai atas. Melihat perawakannya yang berkemeja rapih dengan sepatu mengkilap juga dasi, membuatnya terlihat tampan dan gagah. Sangat disayangkan itu hanya berlaku saat dia bekerja, selepas dari itu dia malah terlihat seperti orang pengangguran yang pusing tidak dapat-dapat pekerjaan. Jangankan mandi, bangun saja susah, sudah seperti mayat yang tak bernapas.

          Aku duduk di samping Bang Ramdan. Sedangkan Mamah duduk di samping Papah. Aku menyikut Bang Ramdan yang hendak mengangkat sendoknya. "Apaan si Dek?"

          Aku berbisik pelan, "Bang, nanti anterin Hawa sampai depan gedung fakultas ya? Jangan di depan halte, hujan, Hawa males nyebrangnya, belum lagi jalan ke dalemnya." pintaku dengan tatapan memelas.

           "Enggak." Jawabnya singkat, mengangkat sendoknya kembali. Aku memandangnya sinis 'Dasar menyebalkan!', sambil meminum susu coklat.

◆◆🌸◆◆

ⓙⓞⓜⓑⓛⓞ
Siapa takut, apa lagi di jalan Allah, Ya gak 😎?


Jazaakumullah khairan katsiran wa jaazakumullah ahsanal jaza.

🌸HIKMAH JOMBLO FII SABILILLAH

بسم الله الرحمن الرحيم
●●●
          
         Shabiya Hawa Salsabila- Aku anak perempuan pertama di keluarga Abdullah, dan Aku sangat menyukai hujan. Karena aku lahir bertepatan ketika sunrise muncul dengan di sertai ribuan tetes air-Nya yang jatuh dari langit, membasahi bumi bak mata air syurga yang menyejukkan.

           Aku bersyukur Allah telah menitipkan aku di keluarga mereka. See, Mamah-Papah, mereka selalu melimpahiku dengan kasih sayangnya. Sedang di luar sana banyak anak seperti ku yang tidak beruntung.

          Panggil saja aku Hawa.

          Kata Mamah, Hawa adalah perempuan pertama yang di ciptakan Allah dari tulang rusuk adam. Mamah sengaja memberi ku nama itu, karena Mamah tau bahwa Allah membuat tulang rusuk dan pemiliknya tidak akan pernah salah.

           Aku percaya sebuah nama adalah do'a. Tapi... Apa hubungannya dengan seorang ikhwan yang bernama Adam?

         Pria berkacamata dengan alis tegas, hidung mancung, bibir tipis, dan ada lesung pipit di kedua sisi pipinya ketika sudut bibir pria itu terangkat membentuk garis seperti bulan sabit.

          Aku tau, mungkin pertemuan aku dengan dia tidaklah lama, karena menurutku ini adalah pertemuan yang singkat.

          Aku bingung bagaimana mendeskripsikan dirinya, bertemu atau melihatnya saja aku belum pernah. Dan...

           Tiba-tiba pagi ini dia membawa serta kedua orang tuanya ke rumah ku, meminta izin pada Papah, Bahwa dia ingin meminjam putrinya untuk di ajak Ta'aruf?.

         Iya aku tau, Wajahnya memang nyaris sempurna. Tapi--

         Bagaimana bisa dia memilihku dengan begitu yakinnya? Sedang di sisi lain, aku sama sekali tidak mengenalnya.
Apa mungkin, ini yang di sebut Hikmah?

Iya, Hikmah--

Hikmah Jomblo Fii Sabilillah.

◆◆🌸◆◆

ⓙⓞⓜⓑⓛⓞ
Siapa takut, apa lagi di jalan Allah, Ya gak 😎?

Jazaakumullah khairan katsiran wa jaazakumullah ahsanal jaza.


Sabtu, 02 Juni 2018

kisah cinta segitiga Aku, Al-Qur'an dan Alzheimer



Kisah cinta segitiga
Aku, Al-Qur’an, dan Alzeimer.

Terkadang sunyi membungkam tak dimengerti.
Sulit untuk di tafsirkan.
Namun begitu menyesakan.
Andai kata setiap langkah dapat ia tulis...
maka sungguh tak terhitung berapa goresan yang telah ia ukir.

Harapannya, seakan-akan hanya sebuah mimpi.
Seakan-akan hanya ilusi.
Seakan-akan hanya cerita fiktif.
Namun itu nyata. Ada disini... Dalam hidupnya...

Teringat ketika bayangan muram tak pernah ditafsirkan itu datang menghampirinya,
Membawa sepenggal kisah yang tak akan habis oleh masa.
Hanya membiarkan angan-angan itu semakin pergi bersama waktu yang terus berjalan...
siapa yang akan tau akan kisah ini? Hanya Dia. Hanya Aku.

Ketika kalian mendambakan dunia, maka ia mendambakan surga...
Ia sadar... dirinya memang kecil dan lemah,
Tapi harapannya besar.
Ia ingin belajar mencintai Dia...
Ia ingin mengejar Ridho-Nya...
Dan ia hanya ingin, Dia meridhoinya untuk memberikan mahkota serta jubah kemuliaan ini kepada mereka...

Namun--semua hanya tinggal harapan, ketika kisah cinta yang menyakitkan itu telah mempertemukannya pada Al-Qur'an dan Alzheimer...

Dalam keheningan malam bersama butiran tasbih aku bergumam,
Tentang seribu pertanyaan untuk Sang Rabb mengenai nasib seorang hamba.

Pertanyaan yang sebelumnya tak pernah ku mengerti jawaban-Nya.
Mengapa Ia mengharuskannya berdiri pada satu titik--?
Ialah titik nadhir dalam kehidupan. Namun, sebuah titik dasar itulah yang akan mengungkap satu-persatu hijab pertanyaanku.

Ya Rabb,
Mengapa aku baru menyadarinya kalau semua pertanyaan itu terhubung dengan suatu takdir?

Bagai huruf-huruf Alif Laam Miim, Alif Laam Ra, Haa Miim, Yaa Siin, Nuun, Kaf Ha Ya 'Aain Shaad, itu semua adalah rumus-rumus Mu yang dahsyat maknanya. Susah diungkapkan, tapi keagungannya sangat indah bila kita mengetahui maknanya. Seperti itulah kehidupan. Di dunia ini memang banyak sekali rahasia-Mu yang tidak bisa dimengerti oleh manusia lemah seperti diriku.

Sekarang aku mengerti.
kini... Perkara takdir, rejeki, jodoh, dan kematianku ku serahkan pada-Mu sang pemilik pohon di Lauhul Mahfudz yang salah satu daunnya telah Kau goreskan mengenai takdir hidupku.

Ibu.. Perjuanganmu tidak akan terhenti dititik itu.
Aku memang baru mengenalnya.
Menatap wajahnya yang indah dengan guratan kalam cinta Rabbnya, dirimu telah berhasil membuat ku jatuh, Luluh akan pesona dalam dirinya.

Ibu benar, Dialah Al-Qur'an, Cinta pertama sekaligus Cinta terakhir yang akan membawa kita pada titik semula.
Allah--
Dialah yang menjadi tujuan terakhir perjalanan kita sebagai hamba-Nya dalam menapaki jejak pencarian makna kehidupan di bumi.

Dan Ayah...
Maaf, bila aku terus memaksamu untuk melakukan hal yang tidak akan pernah bisa engkau lakukan.
Dirimu memang seperti Muhammad--yang mencintai Khadeejah sampai akhir hayatnya tidak satupun wanita yang dapat menggucang arsy cinta kalian.
Dan terimakasih, karena ayah telah menemani ibu melewati liku-liku-Nya.

Ibu... kau benar.
Kini... "Misi Suci" itu telah sempurna.
Semua perjalanan & peristiwa yang telah kau lewati dan kau catat telah menjadi pembelajaran untuk kami.

Ibu juga benar, Kisah cinta segitiga Aku, Al-Qur'an dan Alzheimer serta Kisah Cinta kalian yang tak memiliki ujung pun dapat kalian temukan pelabuhan terakhir untuk peristirahatan perahu cinta kalian.

Dan ibu juga benar mengenai sebuah buku yang ibu tulis. Kini buku itu telah di kenal sebagai buku berjudul--
One Thousand Question to Allah--

Menapak jejak pencarian makna kehidupan di bumi.


Minggu, 06 Mei 2018

Dapatkah Aku Menjadi Wanita Seperti - Fatimah Az-Zahra



Prolog

Tak ada yang lebih romantis dari sujudnya hamba pada Rabbnya. Aku tau, Hijrah bukanlah perkara yang mudah. Terlebih dengan Istiqomah, Apakah Aku mampu? Pertanyaan itulah yang Ku tanyakan pada diriku sendiri.


🌸🌸🌸

Dari Hijrahlah, Kisah Dalam Ikatan tanpa Cinta ini bermula...
            Berawal dari mimpi yang berturut-turut ku anggap hanya sebagai bunga tidur. Ternyata... Aku salah, mimpi itu adalah Sebuah Pesan. Pesan yang mampu menghantarkanku pada sebuah kerinduan. Kerinduan terhadap  sebuah sosok wanita yang sangat luar biasa. Salah satu dari 4 wanita yang dijanjikan Allah sebuah syurga. Yang kehidupannya sangat bersahaja. Yang gerak geriknya membuat cemburu semua wanita. Yang tingkah lakunya dipuja semua manusia. Dan yang menjadi belahan jiwa sang Ayahanda.
Dialah Fatimah Az-Zahra...
            Sumber keindahan, kebanggaan, dan tanda pengenal yang telah dibentuk oleh Rasulullah saw, dengan keindahan Al-qur'an dan kemuliaan akhlak ayahandanya, ada pada dirinya...
           Dari mimpi itulah hijrahku dimulai. Aku sangat bersyukur karena Allah masih menyayangiku. Buktinya Dia telah menyampaikan hidayah-Nya padaku melalui sebuah mimpi. Dulu... Saat aku masih kecil aku suka sekali mengkoleksi berbagai hijab, terlebih banyak fashion hijab yang unik & menarik—membuatku enggan tuk melepaskannya. Tapi... semuanya berubah, tepat di hari, menit, dan detik itu juga—Dia telah membuatku belajar membenci seseorang dan merasakan betapa sakitnya perasaan yang telah dihianati.
            Aku tau keputusanku saat itu memang salah. Rasa amarah dan benci telah bersatu menyelimuti hati. Yang membuatku dengan sengajanya melanggar aturan-Nya. Tapi see, Allah menegurku dengan cara terbaikNya. Sejak saat itulah aku memutuskan untuk berhijrah. Berusaha melupakan kenangan masalalu yang selalu membelenggu ku.
            Dengan memakai hijab secara tidak langsung Aku telah melaksanakan perintah Allah dalam hal menutup Aurat. Sesuatu akan lebih bernilai tinggi jika dijaga dengan sebaik-baiknya, dan bagi wanita muslim adalah dengan menutup aurat dari pandangan kaum Adam.
            Imam, Apakah Allah selalu menyiapkan yang terbaik bagi kita yang mau memantaskan dirinya dalam kebaikan? Hijab membuatmu terhormat di dunia dan mulia di akhirat. Hijab jugalah yang membuat kecantikanmu tak lekang diseret waktu bagai emas karat.
            Tak ada yang lebih romantis dari sujudnya hamba pada Rabbnya. Aku tau, Hijrah bukanlah perkara yang mudah. Terlebih dengan Istiqomah, Apakah Aku mampu? Pertanyaan itulah yang Ku tanyakan pada diriku sendiri.
"Ya-Rabb, Dapatkah Aku Menjadi Wanita seperti—
Fatimah Az-Zahra...?"

2. HIKMAH JOMBLO FII SABILILLAH

        Ucapannya tidak main-main. Dia benar-benar memang makhluk menyebalkan. Tidak kah dia mempunyai rasa kasihan sedikit saja terhadap ...